Pagi-pagi gue dapat kabar yang entah gue bingung mau masukin kabar itu ke kabar baik atau buruk. Karena dua duanya masuk ke situ gitu. gue bingung, jujur aja. Pikiran gue kacau, padahal bukan gue yang akan menjalankan tapi gue yakin di masa depan akan sangat merepotkan.
Definisi sebuah ikatan sakral bagi gue udah ga begitu penting, kalau ditanya kenapa? gue juga gatau. terpatri aja di otak gue, gaada yang bisa saling menguntungkan. kalau pun ada semoga itu gue dan my future.
\
Ngaco banget ya pembahasan gue di blog kali ini, biarin lah ya, sekali-kali gue curhat. toh gaada yang baca ini blog gue wkwk.
Bicara soal problematika diri, gue paling anti sama keasingan. Lebih tepatnya laki-laki asing yang akan masuk ke hidup gue yang tadinya damai jadi ya canggung? Gue yang sejak kecil sudah terbiasa tanpa sosok "hero itu" yang dielu-elukan sebagai pelopor nomor 1 manusia yang tidak akan menyakiti anak gadisnya. but not for me.
dari awal gue merasa, mungkin bisa hidup begini terus, mungkin bisa. tapi ternyata ga ya. setiap harinya ada aja cobaan yang datang, ada aja masalah yang bikin kita spechless sama hidup. contohnya sekarang gue pengen banget makan brownies tapi gigi dan gusi gue udah 3 hari lagi manja banget nih sampe gue gabisa makan apa-apa.
gue harus bagaimana menyikapi hal yang gue benci dan takutkan ini terjadi? kadang terlalu banyak hal yang dipikirin padahal belum tentu terjadi, tapi saat terjadi malah pusing memikirkan jalan keluarnya.
apa salah gue mempunyai hak dan prinsip sendiri?
Gue bukan anak kecil yang bisa dengan mudah bilang iya saat permen ada didepan mata, lagian pas kecil juga gue udah punya prinsip kalau bukan permen alpenlible atau permen karet gue gamau ambil. se picky itu ahahah. kenapa ya gue ngerasa nyaman aja sama diri gue sendiri dengan kehidupan gue ini, gue gasuka kalau ada yang mengusik atau membuat berantakan. Ga semua orang ada di pihak kita, itu yang selalu gue tanamin dalam diri gue. Termasuk orang tua, ataupun kekasih, atau sahabat? ga semua orang punya pilihan dan pemikiran yang sama. yang berujung orang tsb akan dibilang egois, ga mendukung kebahagiaan orang lain. tapi coba dibalik, apa kebahagiaan yang dimaksud itu milik bersama?
Gue bahkan lupa kalau usia gue baru 21th. Problematik abis ini hidup.
Kenapa ada hal yang harus dipersulit jika itu mudah? bagi orang lain sulit bagi kita bisa jadi mudah, dan sebaliknya. Jangan hanya memandang dari satu sudut saja gitu.
Gue udah terlalu lelah nahan semua yang mau gue keluarin, impian yang terkubur, semua terkendala dan sekarang hak dan kebebasan juga mau direnggut. Hidup gue, adalah pilihan dan dasar atas diri gue sendiri.
Mengerti, sedikit saja. Gue gamau banyak, gue punya pilihan hidup. Dan kalau mau merusaknya, rusak saja sekalian semuanya. Lebih baik menjadi buruk daripada baik tapi berpura pura. Gue terlalu naif untuk bilang gue juga butuh kasih sayang dan perhatian. Tapi lama lama hal kaya gitu pudar, ternyata gue ga butuh butuh amat. yang gue butuhin itu duit.
Gue mau bernafas lega, kehilangan 2 superior dalam hidup gue itu udah amat sangat memberatkan. Siapa bilang gue sanggup? siapa bilang gue kuat? Gue juga punya rasa itu tapi gue gapernah menunjukan karena gaada yang paham.
Seharian ini gue ga hidupin handphone. Pulang pun gue cuma pengen makan brownies pakai susu cair, biar empuk dan gue bisa makan.
Hari yang berat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar