Senin, 27 Mei 2019

Lebaran tanpa ketupat nenek

Everything has changed for a reason.

Seperti tahun ini, Ramadhan dan Ied Fitri yang sangat berbeda dari tahun tahun sebelumnya. I've been strong to write this, i've been stop crying and smiling because i wanna to write this lovely memories.

Tahun tahun yang biasanya selalu ada ketupat sayur, dan semur buatan nenek. Tahun ini tidak ada.

Keikhlasan yang harus ditanam lebih dalam, bukan tangisan. Amukan berkepanjangan memacu hati dan membelenggu semua sendu. Meronta berteriak gila, "Buat apa kau terus menangis?!" Teriaknya selalu.

Kejadian yang tak pernah saya sangka akan terjadi hari ini, detik ini. Disetiap sahur tak ada suara teriakan renta memanggil nama saya lagi. Tak ada sebuah tepukan di bokong ini jika tidak bisa dibangunkan.

I've lost.... i almost crying right know.

Hidangan berbuka yang selalu disajikan dengan hikmat, "Minum teh anget dulu, makan lontong dulu, baru makan asinan!" Saya ingin mendengar ini perintah lagi! Ingin!

Es timun suri & kawan-kawannya. Tahun ini pun ada, tapi berbeda. Sangat berbeda. Saya tidak punya selera untuk berbuka dirumah lagi. Mungkin terdengar sangat putus asa, tapi tidak. Kehilangan ini sedikit mengubah eksistensi saya. 

Kehilangan kedua orang yang sangat saya sayangi selama hidup memang sangat memberatkan sekali. Mencoba tidak mengenang apa yang pernah terjadi dirumah, tapi tetap tidak bisa.

Kadang ada masa dimana saya ingin kembali, memeluk nenek, mengobrol bersama kakek sampai tak ingat bahwa didepan sana kejadian seperti ini akan terjadi.

Tahun ini sangat sangat mengguncang batin dan nurani. Kesabaran yang selalu dipertaruhkan kekuatannya. Apapun yang terjadi harus ikhlas, harus tabah. Hati meringis, jiwa meronta. Harus kuat! Bentak hidup pada raga yang hampir jatuh.

Lebaran tanpa ketupat dan sayur godog buatan nenek tercinta, paling enak sepanjang masa. Apalagi semurnya... beuh!
Tahun ini beda. Sangat berbeda, entah sampai kapan bisa bilang semua berbeda. Semoga secepatnya.

Lebaran dengan tanpa.

Semoga Allah senantiasa menyampaikan rindu yang teramat dalam;

Untuk nenek & kakek yang sudah jauh di surga, Semoga Allah selalu beri tempat yang indah dan nyaman.

Missing you so badly,
Maaf belum bisa jadi cucu yang baik selama ini.

Love,

Cucu mu yang bandel banget. xx


Jumat, 03 Mei 2019

Bulan & Matahari

Terkuak akan emosi, tercabik oleh cinta kasih, dan terbelenggu karena rindu.

Bulan pergi dari Matahari.

Karena ia tahu, semakin ia bersama dengan matahari maka itu akan membinasakan. Membinasakan ia, matahari, dan semesta.

Matahari menangis, meringkih, cahayanya seketika redup. Ia tertegun dan tak sanggup, bulannya yang dingin, bulannya yang tidak banyak warna, memutuskan untuk berpisah darinya.

Matahari awalnya emosi, di berikan lah warga bumi kepanasan akan emosinya yang meluap-luap. Dunia panas, matahari marah. Namun sekuat nya emosi dan egoisme diri, tetap ada tahap dimana semua itu luruh. 

Matahari luruh, ia tak sanggup, dan meminta hujan untuk turun menggantikannya. Seluruh asanya bagai hancur. Tanpa pikir panjang kembali, ia kembalikan semua yang telah Bulan beri padanya. Entah itu cahaya, atau apapun itu. Matahari kembalikan semua itu. Berharap dengan itu Bulan akan kembali padanya. 

Sama dengan Matahari, Bulan pun hancur. Hari harinya semakin kelabu, malam semakin gelap dan pekat. Hawa dingin menggerogoti dunia yang dipenuhi duka.

Bulan semakin hancur ketika tau apa yang dilakukan matahari, hatinya tercabik cabik. Tak menyangka Matahari akan berlaku seperti itu padanya.

Semesta hanya membiarkan aksi dari kedua insan yang sedang terbelenggu sendu itu.

Hingga, disuatu malam saat bulan berjaga. Matahari mendatanginya, memberikan seluruh cinta dan harapannya kepada Bulan. Meminta bulan untuk kembali, namun apa daya... semua terlambat. Bulan sudah pada keputusannya, hatinya sudah terkunci kembali. Walau rasa sayang, cintanya untuk Matahari masih tersimpan dilubuk hati. Yang ia lakukan sekarang hanyalah mendoakan dan meminta pada semesta untuk mempertemukan mereka berdua suatu saat nanti.

Di malam yang dingin,
Matahari menangis dipelukan bulan. Menumpahkan seluruh rasa yang mengendap di jiwa. 

Di malam yang gelap,
Dua insan yang saling mencintai sedang menyakiti hatinya masing-masing. Berharap semesta menjawab semua doa-doa yang mereka panjatkan dikemudian hari.

Matahari sangat mencintai bulan,
begitupum sebaliknya.

*empty*

You know what it's like to live like you're not alive? It feels like only you find yourself drowning with all the endless sadness. T...